Bukit Pecaron Situbondo: Wisata dengan Petilasan Syekh Maulana Ishaq

 

Bukit Pacaron 

 Bukit Pacaron ialah bukit kecil yang terletak di daerah Pasir Putih, Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. 

Memasuki area Bukit Pecaron, pengunjung akan melihat di sekelilingi terdapat toko-toko yang menjajakan baik makanan maupun minuman. Dan pada pintu masuk terdapat kotak amal di mana pengunjung dapat membayar seikhlasnya karena di sini tidak ada karcis untuk masuk.

Tangga-tangga mulai tampak dari pintu masuk, meski mungil-mungil, tidak dipungkiri bagi yang tak terbiasa akan merasa kelelahan dan harus berhenti beberapa kali untuk mengatur napas. Namun, pemandangan dari sisi kanan dan kiri, bisa dinikmati setidaknya untuk rehat sejenak. 

Sepanjang jalan menuju atas, pengunjung akan selalu menemukan tangga-tangga dan pegangan besi kalau-kalau butuh untuk menopang hidup, eh hanya bantu agar bisa kuat sampai atas kok! Tapi tenang saja! Banyaknya tangga tidak menjadi penghalang untuk kita menemukan pasangan hidup, eh.. untuk sampai ke petilasan Syekh Maulana Ishaq. 

Tangga menuju petilasan

Kebetulan saya berkunjung ke sini bersama kedua teman saya yaitu Farah dan Sindy. Di mana karena kami yang baru selesai latihan karate di kampus langsung mendaki tipis ke sini, begitu terasa sedikit kelelahan. Hanya sedikit, hehe. Selama perjalanan, lupanya kami justru tidak membawa air, tambah pula penderitaan ini. Please dramatis bangat! 

Semangat ya, diriku! Hehe. Kalian maksudnya:v

Barulah ketika sampai di atas, saya melihat sebuah bangunan di mana ada Petilasan Syekh Maulana Ishaq dan makam dari K.H. RM. Moh Noerhaijin. Kemudian, berbicang dengan salah satu Ustadz yang menjaga ialah Ustadz Ahmad mengenai petilasan dan makam termasuk pengelolaan tempat ini yang ternyata dikelola oleh masyarakat lokal Pecaron. 

Pengunjung yang datang ada dari Jember, Bondowoso, maupun luar kota lainnya. Di mana jam buka bebas dan bagi yang bermalam, pengunjung bisa menempati area dalam bangunan. Pengelola di sini juga memiliki jadwal menjaga yang tentu jika ada pengunjung yang datang malam, maka tidak menjadi permasalahan.

Petilasan

Jalan keluar sedikit, saya menemukan pohon-pohon yang menjulang tinggi dengan akar-akar yang menjalar. Terlihat begitu indah untuk spot foto yang tentu harus tetap berhati-hati. 

Di sini saya dan kedua teman bertanya penasaran apakah ada hal mistis di area sekitar bukit, namun Ustadz Ahmad mengatakan bahwa mungkin ada, tapi tidak terlalu mistis karena kebanyakan orang datang untuk berdoa. Ia mengatakan jika terus mengaitkan dengan hal mistis, justru malah berefek pada pengunjung atau hal lainnya yang tidak bisa dijelaskan. Katanya pula selama niat itu baik, maka tidak akan terjadi apa-apa. Sebab itu, waktu yang menjelang matahari terbit, saya dan teman pun menikmati momen di area pohon-pohon dengan ranting-ranting yang menjalar. 

Setelah puas menikmati keindahan pohon dengan ranting-ranting yang menjalar, kami pun memutuskan untuk pulang dan tidak terbayang ketika harus turun tangga, saya dan kedua teman baru merasakan kaki gemetaran. 

Ada kelegaan setelah dari sana, karena saya jadi bisa menuntaskan rasa penasaran bahwa bukit kecil yang selalu saya lihat dari kejauhan ketika pergi jauh dan melewati Wisata Kampung Kerapu, juga selalu menjadi tanda tanya apa ada segudang misteri di baliknya, akhirnya saya pun mendapatkan jawaban. Kalau bukan karena tugas kuliah English For Tourism dan berkat ide dari teman saya. Saya tidak pernah bisa mengetahuinya.

Sekar, Sindy, Farah

Ternyata banyak juga ya tempat tersembunyi lainnya di Situbondo ini yang menanti untuk saya jelajahi, hehe! Jika ada kesempatan dan tentunya alasan yang mendasari untuk ke wisata lain, saya mau! Dan tulisan di blog ini jadi tulisan pertama saya ke wisata religi yaitu Bukit Pecaron Situbondo yang saya tulis.

Next berkelana ke mana, kita?


Komentar

Postingan Populer