Cerita di balik kelas Inklusi: Pelopor Peduli Disabilitas Situbondo

Setara dalam hak, berdaya dalam karya 

   Dalam memperingati hari lahir ke-14 tahun PPDIS (Pelopor Peduli Disabilitas Situbondo) mengadakan kelas inklusi yang diikuti oleh 35 peserta baik dari non-disabilitas maupun disabilitas yang diselenggarakan pada 21-22 Mei 2026 di Pasir Putih Pintu 2, Situbondo.

Pembukaan kelas GEDSI

Dibukanya acara dengan sambutan langsung dari Ibu Luluk Ariyanti Ketua Yayasan Pelopor Peduli Disabilitas Situbondo, mengawali kelas GEDSI yang akan dilaksanakan. 

Tapi, tahu tidak sih GEDSI itu apa?

Nah di kelas ini, Pemateri menyampaikan bahwa GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) yang mencakup kesetaraan dan inklusi bagi setiap orang. Di mana semua punya hak memperoleh kesempatan yang sama baik non-disabilitas dan penyandang disabilitas tanpa adanya diskriminasi. Tujuan kelas ini untuk mengatasi ketidaksetaraan dan juga berpihak pada kelompok rentan (lansia, Odgj, dan lain-lain)

Dijelaskan pula bahwa disabilitas ialah ketidakmampuan atau keterbatasan (Fisik, mental, sensorik, intelektual). Sementara, difabel ialah orang yang punya kesempatan berbeda. Di sini, kami sepakat untuk tidak boleh bilang: Tuna, cacat, tidak normal, tapi akan lebih baik jika bilang disabilitas ataupun difabel. Dan jika ada yang melanggar wajib nyanyi. Ya, harus nyanyi!

Sesi kelas pertama dibagi menjadi 4 kelompok. Setiap kelompok diberi tugas untuk menyusun lembaran kertas berisi kata-kata sifat (emosional, lemah, kuat, dll) di kertas manila kosong dan menulis perbedaan antara seks dan gender laki-laki dan perempuan. 

Berdasarkan diskusi dan presentasi dari setiap kelompok, seks ialah perbedaan biologis antara laki-laki (Jakun) dan perempuan (Mens, melahirkan, menyusui). Sementara, gender ialah peran, sifat, atau perilaku yang dibentuk oleh masyarakat dan budaya terhadap laki-laki dan perempuan. Gender sifatnya bisa berubah. Misalnya, pemberani tidak hanya dimiliki laki-laki, tetapi perempuan juga bisa.

Diskusi dan presentasi
 
Setelah selesai kelas GEDSI, sesi berikutnya belajar dan mengenal difabel bersama Ibu Luluk. Ada sesi belajar bahasa isyarat bisindo (A-Z) dan memperkenalkan diri. Di sini, saya akhirnya punya kesempatan belajar menggunakan bahasa isyarat dengan mengenalkan nama sendiri di depan yang lain.

Kemudian, peserta non-disabilitas diminta untuk berdiri dan ke depan menjadi volunteer. Awalnya hanya beberapa, tapi setelah Bu Luluk menyebutkan 5 volunteer, 5 lagi, 5 seterusnya. Alhasil semua yang non-disabilitas berdiri. 

Beberapa diberi masker untuk menutup mata mereka, sebagian lagi diikat tangan ke belakang menggunakan tali, lalu satu naik ke kursi roda, satu lagi menuntun. Kemudian, bagi yang ditutup matanya, peserta yang diikat tangannya wajib membantu atau menuntun teman tersebut untuk berjalan di sekitar area pasir putih.

Ketika ditanya bagaimana pengalaman merasakan apa yang dirasakan teman-teman difabel, saya pun menceritakan bahwa ternyata tidak mudah jika kita di posisi mereka. Penjelasan dari beliau yang mengatakan itu baru sekali. Dan bagaimana dengan yang dirasakan difabel bertahun-tahun? Seketika menyadarkan saya bahwa betapa hebatnya mereka bisa bertahan sampai detik ini bahkan menjalani hidup tanpa merasa harus selalu dikasihani.

Adanya waktu istirahat, saya punya kesempatan untuk berinteraksi dengan difabel lainnya. Saling mengenalkan diri, bertanya, berbagi cerita. Hingga tiba-tiba teman saya yang akrab dipanggil Ocha bersama Ela mengajak untuk naik perahu. Akhirnya setelah menimbang cukup lama, kami akhirnya naik perahu dan menikmati laut dengan pemandangan gunung di belakang yang betapa indahnya juga ada pelangi yang muncul di sana.

Menikmati pemandangan senja bersama Ela dan Ocha

Kami bertiga pun menikmati senja dan tidak lupa mengabadikan dengan kamera. Ya ampun, benar-benar indah pemandangannya apalagi ada saya, hehe..

Malam harinya berlanjut ke kelas tematik ada kelas Kebijakan & penganggaran inklusif, Desa/kelurahan inklusif, Ekonomi & Ketenagakerjaan inklusif, Pendidikan inklusif, Aksesibilitas, Perubahan Iklim inklusif, dan Interaksi sosial inklusif. Melihat waktu yang tidak banyak, kami pun dibagi ke beberapa kelas dan saya masuk ke kelas Desa/kelurahan inklusi. Bersama dengan mentor, kami berdiskusi bagaimana langkah-langkah mewujudkan desa inklusi yang besok paginya akan dipresentasikan kepada yang lain sehingga bagi yang tidak mendapat kesempatan di kelas lain dapat mengenal juga kelas tematik lainnya.

Kelas tematik desa/kelurahan inklusi

Pada keesokannya, tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi semalam. Inti dari semua kelas tematik yaitu bagaimana penyandang disabilitas juga punya hak yang sama tanpa adanya diskriminasi baik pemerintah, masyarakat, dan orang terdekat. 

Sayangnya, hujan turun begitu deras yang menyebabkan air masuk ke tenda dan menggenang dan kami terpaksa harus berpindah tempat. Saat sesi penutupan, saya tidak ikut berkumpul karena terjebak sendiri di depan toilet umum. 

Tapi, meskipun begitu, di derasnya hujan, saya benar-benar merasa bahwa mengikuti kelas inklusi ini adalah pilihan yang tepat. Selain banyaknya pengetahuan baru tentang disabilitas, bertemu teman-teman difabel, perspektif saya juga perlahan berubah bukan hanya sekadar melihat teman difabel dan merasa begini-begitu terhadap mereka, tapi menyadari bagaimana semua orang itu setara. 

Terima kasih PPDIS sudah menyelenggarakan kelas inklusi ini dan memberi kesempatan bagi saya untuk bergabung. Dan teman-teman semua, sampai jumpa✨

Komentar

Postingan Populer