Ketika Gen Z berjualan


 Seringkali membaca postingan mengenai gen z yang sudah tidak familiar bahwa gen z katanya mudah moodyan dalam memulai sesuatu. Contohnya berjualan.

Seperti yang sudah tidak asing bahwa "Memulai sesuatu itu mudah, yang sulit mempertahankan dan mengembangkan sesuatu yang sudah dimulai." Namun, seringkali ketika merasa di titik sudah tidak seambis waktu pertama kali ingin berjualan, dan malah memilih berhenti.

Ya, ada beberapa faktor mengapa itu terjadi, seperti kurangnya pengetahuan cara berjualan yang mampu memikat pembeli, produk yang itu-itu saja, tidak ada inovasi atau kreativitas terkait produk. 

Yuliani dan Suryani (2023) menyatakan bahwa "tantangan utama wirausahawan muda saat ini ialah terletak pada kemampuan untuk menjaga konsistensi ide kreatif di tengah ketatnya persaingan pasar dan perubahan teknologi yang begitu cepat." Hal ini mendasari bagaimana generasi muda sekarang rata-rata menggebu-gebu di awal ingin berjualan, tetapi ketika sudah mulai, bosan pun melanda dan rasa menyerah menyertai.

Hal inilah yang saya rasakan ketika berada di semester awal kuliah. Rasanya ingin sekali berjualan dan mendapatkan hasil lumayan.

Mulanya, Saya mencoba berjualan dengan membeli di suatu toko, lalu saya jual kembali. Membeli produk menarik yang saya rasa menarik teman-teman saya untuk membeli, salah satunya cokelat, tetapi tidak lama dari itu.. Saya justru bosan.

Dan akhirnya memutuskan untuk berjualan snack yang saya beli pula tanpa memprosesnya sendiri, lalu dikemas sesuai peminat anak-anak muda dengan harga Rp 3.000 perbungkus.

        



Apa yang terjadi? Yah mungkin sekitar 1 bulan saya bertahan berjualan snacks itu. Hal yang mendasari selain mood, juga pelanggan yang merasa saya berjualan yang sama dan tidak memikat.

Tentu, tidak ada kreativitas yang saya bangun ketika memulai berjualan ini serta pendapatan yang naik-turun. Alhasil, saya memilih berhenti dan menyudahi dengan waktu yang amat singkat.

Dari itu, saya belajar bahwa di tengah situasi itu, ternyata berjualan tidak mudah, saya juga pernah di posisi malu untuk menawarkan, sudah menawarkan dan tidak ada yang membeli, sudah menyetok produk tetapi pendapatan naik-turun. Dan semua pengeluaran-pendapatan saya hitung sendiri. Ya belajar memiliki usaha kecil walaupun mencoba saja.

Mungkin, kalau ada niat lagi ber-usaha, saya akan mencobanya lain waktu. Sebab di waktu sekarang, rasanya mental untuk berjualan kembali, belum membaik, dan sibuk lainnya juga.

But, pengalaman berjualan itu membuat saya jadi melihat dua sisi, yaitu; mental sedang diuji ketika menawarkan tetapi tidak ada yang beli, dan tampak sumringah ketika mendapatkan keuntungan lebih.


Bagi gen z yang masih bertahan berwirausaha di masa kini. Selamat ya, semoga usahanya lancar!




References:
Yuliani, A., & Suryani, D. (2023). Tekanan Psikologis dan Tantangan Adaptasi Wirausahawan Muda di Era Digital. Jurnal Psikologi dan Kewirausahaan, 5(1), 20–



Komentar

Postingan Populer